Dan Lalu


Hi folks, sedikit curhatan saya yang mungkin kamu bakal bosen dengan cerita yang sangat panjang. Hahaha. Sebenernya ini privasi tapi tenang, saya sudah meminta izin kepada yang bersangkutan dan Alhamdulillah diizinkan, Cuma untuk sekedar sharing aja ya, mungkin kamu juga pernah merasakan apa yang saya rasakan jadi nggak ada salahnya kalau kamu setelah baca ini kamu coment di bawah, tapi saya nggak akan memaksa kamu untuk merasakan seperti saya lho ya. Hehe
 Jadi gini, 3 tahun lalu pernah mengalami putus dengan seorang laki-laki yang dulunya pernah menemani saya jatuh bangun dan akhirnya ditahun pertama saya diterima di perguruan tinggi, kami putus karna orang tua. Dari situlah saya belajar mengikhlaskan, karna ibu saya pernah memberi nasehat “tidak selamanya keinginan kamu harus dikabulkan Allah” dan itu sangat benar sekali, akhirnya saya memulai belajar mengikhlaskan. Sekarang saya tau arti memiliki, arti kehilangan, dan arti dipertemukan kembali.
Apa kamu pernah merasakan? Semoga tidak ya. Setelah saya mendapatkan ujian seperti itu hari-hari saya selalu merenung untuk mengintrospeksi diri saya, sampai sekarangpun jika saya mempunyai banyak waktu luang pasti saya mengintrospeksi diri saya, dan saya jadikan bahan untuk menjalani kehidupan dimasa mendatang.
Hubungan kami sangat baik baik saja setelah kami memutuskan putus, kami masih berkomunikasi satu sama lain, masih sering mengajak ketemu hanya sekedar bersendau gurau, memperbincangkan hal-hal yang tidak penting, dan seperti tidak ada masalah apa-apa diantara kami. Selang satu tahun saya mendapatkan kabar jika dia mau menikah rasanya nano nano, pertama saya bersyukur karna dia sudah mendapatkan jawaban dari Allah, yang kedua saya sedih karna mengingat dulu pernah berpacaran dengannya sangat lama, dan harus mengorbankan perasaan dengan kata ”ikhlas”. I’m fine, saya bersikap baik-baik saja jika ada yang bertanya kepada saya dan selalu memberi saya support, seperti dulu seorang mantan saya selalu berkata kepada saya “belajarlah seperti ikan salmon, bisa melawan arus yang sangat kencang, aku yakin kamu kuat seperti ikan salmon” itu bentuk motivasi terakhir dari dia untuk saya yang sampai sekarang masih saya gunakan untuk menjalani hari-hari saya.
Jika kamu berargumen “kalau putus cinta harus segera melupakan kenangan-kenangannya dan mencari cinta yang baru untuk menutupi luka lama”, kalau menurut saya semua tidak perlu dilupakan setiap kenangan-kenangannya, jika kamu belum siap merasakan cinta yang baru saya sarankan “jangan” karna apa? Setelah kamu putus cinta dan kamu merasakan cinta yang baru itu sama saja kamu sedang berada dititik dimana kamu menambah luka semakin dalam. Kita cukup berintrospeksi diri sebentar, memaafkan yang sudah berlalu, menata kembali kehidupan kita dari nol, dan setiap apa yang kita perbuat pasti ada hikmahnya. Dan Alhamdulillah hubungan kami sampai sekarang baik-baik saja, saya tidak menyimpan benci atapun dendam sama sekali, saya selalu bersyukur karna Allah selalu menunjukan yang baik untuk kami.

Sampai menginjak tahun ketiga ini, saya selalu diberi pertanyaan saat bertemu dengan seorang teman sampai ibu sayapun juga menanyakan hal tersebut “sekarang seorang yang mendekati kamu siapa?”, itu salah satu pertanyaan yang selalu saya hindari dari diri saya, karna saya tidak ingin terlalu cepat mendapatkan cinta yang baru, saya hanya ingin menikmati setiap prosesnya. Ada sedikit trauma dari yang dulu, sampai-sampai saya berbicara kepada diri saya sendiri “jika saya mempunyai pacar atau suami, saya tidak mau ada kata putus atau cerai. Saya hanya ingin semua baik-baik saja”. Semoga kita semua bisa mendewasakan diri kita, dan menyelesaikan masalah dengan baik-baik saja J . I still like salmon




"Terima Kasih dari kisah yang lama untuk cinta yang baru."

Komentar